Tema : Menshalatkan Jenazah
MENYALATKAN JENAZAH
Pengertian dan Hukum Salat Jenazah
Salat jenazah adalah salat yang dilakukan umat Islam untuk mendoakan seorang Muslim yang telah meninggal dunia. Salat ini berbeda dari salat lima waktu karena tidak memiliki rukuk, sujud, duduk di antara dua sujud, maupun tasyahud. Salat jenazah dilaksanakan dengan berdiri, empat kali takbir, membaca bacaan yang disyariatkan, dan diakhiri dengan salam.
Hukum salat jenazah adalah fardu kifayah, yaitu kewajiban bersama kaum Muslimin. Apabila sebagian umat Islam telah melaksanakannya, gugurlah kewajiban dari yang lain.
Dalil Al-Qur’an
Allah Swt. berfirman:
وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya: “Dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(QS. At-Taubah: 103)
Ayat ini berbicara tentang doa Nabi Muhammad saw. bagi orang-orang yang mengeluarkan zakat. Ayat tersebut menunjukkan pentingnya mendoakan sesama Muslim, sedangkan tata cara salat jenazah dijelaskan lebih lanjut dalam hadis dan fikih.
Dalil Hadis
Rasulullah saw. bersabda:
صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ
Artinya: “Salatkanlah sahabat kalian.”
(HR. al-Bukhari, dalam kisah utang seorang yang meninggal dunia)
Hadis tersebut menunjukkan pensyariatan salat jenazah bagi seorang Muslim yang meninggal dunia.
Ketentuan Empat Kali Takbir
Salat jenazah dilaksanakan dengan empat kali takbir. Urutan bacaan yang umum diajarkan adalah sebagai berikut.
- Takbir pertama Membaca Surah Al-Fatihah.
- Takbir kedua Membaca selawat kepada Nabi Muhammad saw.
- Takbir ketiga Membaca doa untuk jenazah.
- Takbir keempat Membaca doa, kemudian mengucapkan salam.
Apabila seseorang melakukan lima kali takbir, salatnya dinyatakan tidak batal. Namun, jika imam melakukan takbir kelima, makmum tidak perlu mengikutinya. Makmum dapat menunggu imam menyelesaikan salat, lalu salam bersamanya.
Bacaan Takbir Pertama: Surah Al-Fatihah
Setelah takbir pertama, orang yang menyalatkan jenazah membaca Surah Al-Fatihah.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.
Artinya: Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Al-ḥamdu lillāhi rabbil-‘ālamīn. Ar-raḥmānir-raḥīm. Māliki yaumid-dīn.
Artinya: Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Pemilik hari pembalasan.
Bacaan dilanjutkan sampai akhir Surah Al-Fatihah, sebagaimana QS. Al-Fatihah ayat 1–7.
Bacaan Takbir Kedua: Selawat kepada Nabi Muhammad saw.
Setelah takbir kedua, dibaca selawat kepada Nabi Muhammad saw. bacaan minimal selawat adalah:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ
Latin: Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad.
Artinya: Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Nabi Muhammad.
Bacaan yang lebih lengkap dan lazim digunakan adalah selawat Ibrahimiyah, sebagaimana berikut.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
Latin: Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammadin wa ‘alā āli Muḥammad, kamā ṣallaita ‘alā Ibrāhīma wa ‘alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd.
Artinya: Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan selawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.
Bacaan Takbir Ketiga: Doa untuk Jenazah
Setelah takbir ketiga, dibaca doa untuk memohon ampunan, rahmat, dan keselamatan bagi jenazah.
Doa singkat
Sesuai keterangan pada foto, bacaan minimal yang disebutkan adalah:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ
Latin: Allāhummaghfir lahu.
Artinya: Ya Allah, ampunilah dia.
Untuk jenazah perempuan, kata lahu dapat diganti menjadi lahā:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهَا
Latin: Allāhummaghfir lahā.
Artinya: Ya Allah, ampunilah dia (perempuan).
Doa yang lebih lengkap
Salah satu doa yang masyhur dibaca dalam salat jenazah adalah:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ، وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ النَّارِ.
Latin:
Allāhummaghfir lahu warḥamhu wa ‘āfihi wa‘fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi‘ mudkhalahu, waghsilhu bil-mā’i wats-tsalji wal-barad, wa naqqihi minal-khaṭāyā kamā naqqaitats-tsaubal-abyaḍa minad-danas, wa abdilhu dāran khairan min dārihi, wa ahlan khairan min ahlihi, wa zaujan khairan min zaujihi, wa adkhilhul-jannata, wa a‘idzhu min ‘adzābil-qabri wa ‘adzābin-nār.
Artinya:
Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, sejahterakanlah dia, dan maafkanlah kesalahannya. Muliakanlah tempat tinggalnya dan lapangkanlah tempat masuknya. Bersihkanlah dia dengan air, salju, dan embun es. Bersihkanlah dia dari kesalahan sebagaimana kain putih dibersihkan dari kotoran. Gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik, keluarganya dengan keluarga yang lebih baik, dan pasangannya dengan pasangan yang lebih baik. Masukkanlah dia ke dalam surga dan lindungilah dia dari azab kubur dan azab neraka.
Catatan: Untuk jenazah perempuan, kata ganti laki-laki seperti lahu, warḥamhu, dan adkhilhu disesuaikan menjadi lahā, warḥamhā, dan adkhilhā.
Doa ini bersumber dari hadis tentang doa Nabi Muhammad saw. bagi jenazah. (HR. Muslim, no. 963).
Doa panjang sebagaimana
redaksi doa yang lebih panjang. Berikut bagian awal dan pokok doanya dalam bentuk bacaan yang dapat dipelajari:
اللَّهُمَّ إِنَّ هَذَا عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ، خَرَجَ مِنْ رَوْحِ الدُّنْيَا وَسَعَتِهَا، وَمَحْبُوبِهِ وَأَحِبَّائِهِ فِيهَا، إِلَى ظُلْمَةِ الْقَبْرِ وَمَا هُوَ لَاقِيهِ.
Latin:
Allāhumma inna hādzā ‘abduka wabnu ‘abdika, kharaja min rauḥid-dunyā wa sa‘atihā, wa maḥbūbihi wa aḥibbā’ihi fīhā, ilā ẓulmatil-qabri wa mā huwa lāqīh.
Artinya:
Ya Allah, sesungguhnya ini adalah hamba-Mu dan putra dari hamba-Mu. Ia telah meninggalkan kehidupan dunia beserta kelapangannya, serta orang-orang yang dicintai dan mencintainya, menuju gelapnya kubur dan segala yang akan dihadapinya.
Pokok doa selanjutnya adalah pengakuan bahwa Allah Maha Esa, permohonan ampunan dan rahmat, perlindungan dari fitnah serta azab kubur, dan permohonan agar jenazah ditempatkan dalam keadaan aman hingga dibangkitkan menuju surga Allah.
Bacaan Takbir Keempat
Setelah takbir keempat, dibaca doa untuk jenazah dan orang-orang yang masih hidup.
اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ، وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ
Latin: Allāhumma lā taḥrimnā ajrahu, wa lā taftinnā ba‘dahu, waghfir lanā wa lahu.
Artinya: Ya Allah, janganlah Engkau menghalangi kami dari pahalanya, janganlah Engkau memberikan fitnah kepada kami setelah kepergiannya, dan ampunilah kami serta dia.
Untuk jenazah perempuan, kata ganti ajrahu, ba‘dahu, dan lahu disesuaikan menjadi ajrahā, ba‘dahā, dan lahā.
Doa ini mengajarkan bahwa kematian seseorang bukan hanya menjadi pengingat bagi keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga kesempatan untuk memohon ampunan bagi diri sendiri dan sesama Muslim.
Salam dalam Salat Jenazah
Setelah membaca doa takbir keempat, salat jenazah diakhiri dengan salam.
Bacaan salam:
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ
Latin: Assalāmu ‘alaikum wa raḥmatullāh.
Artinya: Semoga keselamatan dan rahmat Allah tercurah kepada kalian.
Bacaan salam salat jenazah pada dasarnya sama dengan salam dalam salat lainnya. Dalam sebagian redaksi fikih, dianjurkan menambahkan lafaz:
وَبَرَكَاتُهُ
Wa barakātuh.
Artinya: Dan keberkahan-Nya.
Dengan demikian, rangkaian salat jenazah selesai setelah empat takbir, bacaan-bacaan yang menyertainya, dan salam.
Hikmah Salat Jenazah
Salat jenazah mengandung sejumlah pelajaran penting.
- Mengingat kematian. Setiap manusia akan kembali kepada Allah Swt.
- Menumbuhkan kepedulian. Umat Islam dianjurkan mendoakan saudara seiman yang meninggal dunia.
- Memperkuat persaudaraan. Kehadiran kaum Muslimin menjadi bentuk penghormatan dan dukungan bagi keluarga yang berduka.
- Melatih kerendahan hati. Jabatan, kekayaan, dan kedudukan duniawi tidak dibawa sebagai bekal utama menghadap Allah.
- Mendorong amal saleh. Mengingat kematian seharusnya mendorong manusia memperbaiki ibadah dan akhlaknya.
Sabtu : 11 Oktober 2026
Penulis : Mohamad Endang Sudrajat, S.Pd.I
Editor : Triarto Setiyo, S.Kom, CPS, C.SA
Sumber : Kitab Fathul Qorib karya Ibnu Qosim Al Ghazi dan Tausyeh Fathul Qorib karya Syaikh Nawawi al-Bantani



