Tema Kajian : KESUNAHAN-KESUNAHAN MANDI – irsyadul-ibad.com
  • Selamat Datang di Situs Resmi Majelis Ta'lim Irsyadul Ibad Yang Di Kelola Oleh Pengurus
Senin, 2 November 2026

Tema Kajian : KESUNAHAN-KESUNAHAN MANDI

Tema Kajian : KESUNAHAN-KESUNAHAN MANDI
Bagikan

KESUNAHAN-KESUNAHAN MANDI

Dalam peraktek mandi wajib ada pekerjaan yang harus dilakukan adapula yang hanya sunnah dilakukan. Sunah berarti jika ditinggalkan tidak akan membatalkan mandi. Adapun kesunahan-kesunahan mandi ada 5 perkara, yaitu sebagai berikut :

  1. Membaca basmalah

Membaca basmalah yaitu minimal membaca kalimat bismillah, maksimal bismillahirrohmanirrohim. Waktu membaca basmalah beriringan membaca niat mandi di dalam hati. Walaupun termasuk ayat al quran membaca basmalah diperbolehkan karena diniatkan dzikir.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لاَ يُبْدَأُ فِيْهِ بِـ : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ فَهُوَ أَبْتَرُ

“Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan ‘bismillahirrahmanir rahiim’, amalan tersebut terputus berkahnya.”

  • Berwudhu dengan sempurna sebelum mandi seperti wudhu hendak shalat

Jika orang yang mandi dalam keadaan suci dari hadas kecil atau dalam keadaan punya wudhu sebelumnya, contohnya seperti ada seseorang yang memiliki wudhu kemudian tertidur dalam keadaan duduk tetap, kemudian mimpi sampai keluar air mani, maka niat wudhunya sebagai berikut

نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِسُنَةِ الغُسلِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Artinya : niat saya berwudhu untuk Sunnah mandi karena Allah ta’ala

Jika orang yang mandi dalam keadaan punya hadas kecil atau tidak punya wudhu sebelumnya maka niat wudhunya sebagai berikut :

نَوَيْتُ الْوُضُوْءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَصْغَرِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Artinya : niat saya berwudhu menghilangkan hadas kecil karena Allah ta’ala

Diriwayatkan dari Aisyah RA ia berkata:

 إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الجَنَابَةِ، غَسَلَ يَدَيْهِ، وَتَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ، ثُمَّ اغْتَسَلَ

“Jika (Rasulullah SAW ) mandi junub, beliau mencuci tangannya lalu berwudhu seperti wudhu untuk shalat. Kemudian beliau mandi.” (HR. Al-Bukhari No. 272; HR. Muslim No. 316)

  • Menggosok-gosokan tangan ke bagian tubuh yang terjangkau

Dalam madzhab imam Syafe’i menggosok-gosokan tangan ke bagian tubuh yang terjangkau hukumnya sunnah, sehingga tidak wajib seseorang yang mandi meminta bantuan orang lain untuk menggosok bagian tubuh yang tidak terjangkau. Berbeda dengan madzhab imam malik yang mewajibkan menggosok-gosokan tangan ke bagian tubuh yang terjangkau.

  • Muwalat atau terus menerus

Berbeda dengan muwalat ketika membaca fatihah dalam shalat yang wajib hukumnya, muwalat dalam mandi wajib hukumnya hanya sunnah. Sehingga seseorang yang mandi wajib boleh tidak langsung menuntaskan mandinya selama ia tidak mengerjakan hal-hal yang mewajibkan mandi.

  • Mendahulukan bagian tubuh yang kanan

Disunahkan ketika mandi wajib untuk mendahulukan membasahi bagian tubuh yang kanan kemudian yang kiri.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ، فِي تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ، وَطُهُورِهِ، وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ

“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam amat menyukai memulai dengan kanan dalam mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci dan dalam urusannya yang penting semuanya” (Muttafaqun ‘alaih).

Sabtu                     : 05 Juli 2025 M / 9 Muharram 1447 H

Penulis                  : Mohamad Endang Sudrajat, S.Pd.I

Sumber                : kitab fathul qorib karya Syaikh Muhammad bin Qosim Al-Ghozi

Dokumentasi Kegiatan:

SebelumnyaKajian Rutin Bapak-bapak MT Irsyadul Ibad *Walimatul Waqirah (tasyakuran isi rumah bpk edi)SelanjutnyaPENGERTIAN YATIM PIATU SERTA HIKMAH DAN KEUTAMAAN MENYANTUNINYA
Tidak ada komentar

Tulis Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Majelis Ta'lim - Irsyadul Ibad
Perumahan Panorama Kemang - Blok i - RT 07 RW 15
Tahun Berdiri2021