Tema : Shalat Gerhana
SHALAT GERHANA
Matahari dan bulan merupakan dua ciptaan Allah yang memiliki peran penting bagi kehidupan manusia. Ketika terjadi gerhana, sebagian orang menganggapnya sebagai fenomena biasa, sementara pada masa jahiliah gerhana sering dikaitkan dengan berbagai mitos dan kejadian tertentu. Islam datang meluruskan pemahaman tersebut. Rasulullah saw. menjelaskan bahwa gerhana bukanlah karena kelahiran atau kematian seseorang, melainkan salah satu ayat (tanda kekuasaan) Allah Swt. yang mengingatkan manusia agar semakin bertakwa, memperbanyak zikir, doa, istigfar, sedekah, dan mendirikan shalat gerhana.
Allah Swt. berfirman:
﴿وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ﴾
Artinya : “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Fuṣṣilat [41]: 37)
Ketika terjadi gerhana dianjurkan kepada umat muslim untuk melaksanakan shalat gerhana, shalat ini dilaksanakan saat terjadi gerhana, sehingga tidak ada qhodho bagi yang tertinggal. hukum shalat ini adalah sunah muakkad.
Dari Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda :
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ، وَكَبِّرُوا، وَصَلُّوا ، وَتَصَدَّقُوا
Artinya : “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau hidupnya seseorang. Maka, apabila kalian melihat gerhana tersebut, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari no. 1044 dan Muslim no. 901)
Shalat gerhana dilaksanakan sebanyak 2 raka’at dengan tatacara sebagai berikut :
Dalam raka’at pertama :
- Membaca takbirotul ihram dengan niat shalat gerhana matahari atau gerhana bulan
- Membaca do’a iftitah dan ta’awudz
- Membaca surat alfatihah
- Membaca surat pendek
- Ruku’
- Berdiri kembali
- Membaca surat fatihah yang kedua
- Membaca surat pendek
- Ruku’ kedua yang lebih singkat dari yang pertama
- I’tidal yang keduakalinya
- Sujud dua kali
- Berdiri untuk raka’at kedua
Pada raka’at kedua, tatacara pelaksanaannya sama denga raka’at pertama. Ketika ruku’ dan sujud dianjurkan memperbanyak membaca tasbih. Dalam ruku’ pertama dianjurkan membaca tasbih ukuran membaca 100 ayat quran yang sedang, ruku’ kedua ukuran 80 ayat, ruku’ ketiga ukuran 70 ayat, ruku’ ke empat ukuran 50 ayat.
Setelah selesai shalat disunahkan untuk membaca khutbah dua kali. Dianjurkan materi khutbah berisi tentang ajakan bertaubat dan mengerjakan kebaikan seperti sedekah dll. Bacaan dalam Shalat gerhana matahari dibaca pelan dan dalam shalat gerhana bulan dibaca kencang. Waktu Shalat gerhana matahari dimulai sejak gerhana mulai terjadi dan berakhir saat gerhana selesai secara total atau matahari sudah tenggelam di ufuk barat, sedangkan waktu shalat gerhana bulan berakhir saat gerhana selesai secara total atau sampai munculnya matahari.
Sabtu : 19 Juli 2026
Penulis : Mohamad Endang Sudrajat, S.Pd.I
Editor : Triarto Setiyo, S.Kom, CPS, C.SA
Sumber : Kitab Fathul Qorib karya Ibnu Qosim Al Ghazi dan Tausyeh Fathul Qorib karya Syaikh Nawawi al-Bantani

Oplus_0



